Aktifis Pertanian Organik: Holtikultura
X
Pencarian pada kategori

💗 Holtikultura 💗

Jumat, 17 Februari 2017
by :

Budidaya Jeruk Manis

budidaya-jeruk-atifis-pertanian-organik
budidaya jeruk atifis pertanian organik

Pemeliharaan Tanaman

Penyulaman
Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.

Penyiangan
Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.

Pembubunan
Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.

Pemupukan
Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut :

1 bulan : Urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; P.kandang=20 kg/tan.
2 bulan : Urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; P.kandang=40 kg/tan.
3 bulan : Urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; P.kandang=60 kg/tan.
4 bulan : Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80 kg/tan.
5 bulan : Urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.
6 bulan : Urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.
7 bulan : Urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;
8 bulan : Urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.
>8 bulan: Urea >1000; ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.

Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk kanopi pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas mulai tumbuh 3-4 tunas memungkinkan seragam pada jarak yang nantinya akan membentuk kanopi pohon. Dalam pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki ranting atau kelipatannya 3-4.

Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.

Pengairan Dan Penyiraman
penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup dengan mulsa.

Penjarangan Buah
ketika pohon-pohon jeruk berbuah, penjarangan harus dilakukan agar pohon mampu mendukung berat pertumbuhan agar kualitas buah tetap terjaga. Buah dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari dan buah kelebihan dalam satu tangkai. Buang buah pada akhir kelompok buah dalam tangkai utama dan hanya menyisakan 2-3 buah.

Hama dan Penyakit

Hama tanaman jeruk antara lain :


Kutu loncat (Diaphorina citri)

Serangan pada tangkai, kuncup daun, tunas, dan daun muda. Gejala penyerangan adanya tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian dengan menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, selain itu buang bagian yang terserang.

Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii)

Serangan terjadi pada tunas muda dan bunga. Gejala penyerangan seperti daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50SCW), dan Malathion (Gisonthion 50 EC).

Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella)

Menyerang daun muda. gejala penyerangan terlihat adanya alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/ daun muda mengkerut, menggulung, dan rontok. Pengendalian dengan cara menyemprotkan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP), Diazinon Basazinon 45/30 EC). Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.

Penyakit Tanaman Jeruk

Embun Tepung
Disebabkan oleh jamur Odidium tingitanium, yang menyerang daun dan tangkai muda. Gejala serangan seperti tepung berwarna putih pada daun dan tangkai muda. Pengendalian menggunakan fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot 25 EC).

Kudis
Disebabkan oleh jamur Sphaceloma fawcetti , menyerang bagian daun, tangkai atau buah. Gejala serangan ditunjukkan dengan adanya bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian dengan pemangkasan teratur, dan penyemprotan fungisida Dithiocarbamate / Benomyl (Benlate).

Busuk Buah
Disebabkan oleh jamur Penicillium spp., Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Jamur ini menyerang buah yang ditandai adanya tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit buah jeruk. Pengendaliannya dengan menghindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/ fungisida benomyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.

Buah Gugur Prematur
Disebabkan oleh jamur Fusarium sp. , Colletotrichum sp., Alternaria sp., yang menyerang buah dan bunga dengan gejala gugurnya buah pada dua sampai empat minggu sebelum panen. Pengendaliannya dengan menggunakan Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.

Panen

Ciri dan Umur Panen dan cara panen

Buah jeruk dipanen saat masak optimal, sekitar 8 bulan dari berbunga. Karakter buah siap panen buah saat ditekan dengan ibu jari dan jari telunjuk tidak merasa sulit, kulit kekuningan, kadar sari buah mencapai sekitar 35-40%.

Lakukan panen saat cuaca cerah, gunakan tangga kaki empat untuk mencapai buah yang tinggi, tangkai buah dipotong dengan gunting pemangkasan, masukkan ke dalam keranjang ditutup dengan kantong plastik. Rata-rata, setiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun.

Halaman Sebelumnya....
0

Budidaya Jeruk Manis

budidaya-jeruk-aktifis-pertanian-organik
Budidaya Jeruk-Aktifis Pertanian Organik
Jeruk adalah semua anggota tumbuhan berbunga dari suku Rutaceae Citrus suku jeruk-jerukan. Anggota dengan buah berdaging berbentuk pohon dengan rasa asam segar, meskipun banyak anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa asam sitrat berasal dari kandungan asam yang terkandung dalam semua anggotanya.

Selain untuk makanan pencuci mulut jeruk merupakan buah yang menjadi sumber utama vitamin C dalam jenis buah-buahan. Jeruk juga merupakan buah yang laris dalam kalangan masyarakat di semua kelas baik kelas bawah maupun kelas atas karena jeruk juga mempunyai nilai ekonomi dan nilai bisnis yang tinggi.

Cara Budidaya Jeruk Manis Berkualitas

Syarat Tumbuh

Iklim, tanaman jeruk memerlukan iklim di mana kecepatan angin tidak lebih dari 40-48% untuk bunga dan buah tidak jatuh keluar. Untuk daerah yang intensitas tinggi dan kecepatan angin penahan angin tanaman yang lebih baik ditanam baris tegak lurus dengan arah angin.

Tanaman jeruk memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah yang diperlukan untuk pengembangan bunga dan buah sehingga tanah tetap lembab. Tanaman jeruk di Indonesia membutuhkan air yang cukup, terutama di bulan Juli-Agustus. Suhu optimal antara 25-30 ° C, tapi ada masih bisa tumbuh normal pada 38 ° C

Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Kelembaban optimal untuk pertumbuhan tanaman adalah sekitar 70-80% RH. Ketinggian cocok antara 1-700 m di atas permukaan laut.

Media tanam, tanah yang baik untuk tanaman jeruk lempung untuk lempung berpasir dengan fraksi liat 7-27%, 25-50% dari debu dan pasir Pedoman Budidaya
Pembibitan, bibit jeruk biasa berasal dari perbanyakan vegetatif berupa ujung tunas okulasi. Bibit yang baik bebas penyakit, subur, diameter batang antara 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut memiliki banyak, akar tunggang berukuran sedang dan benih bersertifikat penangkaran bibit.

Teknik Penyemaian Bibit

Cara Generatif
Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji kering di tempat yang tidak terkena selama 2-3 hari sampai lendirnya hilang. Daerah pembibitan memiliki tanah yang subur. 30-40 cm tanah diolah dan plot persemaian siap mengukur 1,15-1,20 m membentang dari utara keselatan. Jarak plot 0,5-1 m. Sebelum penanaman, pupuk kandang berlaku untuk 1 kg/M2.

Bibit ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram dengan air. Setelah penanaman, atap pembibitan. Menanam benih pindah ke polybag dengan ukuran 15 x 35 cm, setelah bibit tinggi mencapai ketinggian 20 cm pada usia 3-5 bulan. Media tumbuh dalam kantong plastik yang terbuat dari campuran pupuk kandang dan sekam dengan perbandingan 2: 1 atau pupuk kandang, sekam padi, pasir dengan perbandingan 1: 1: 1.

Cara Vegetatif
Sebuah metode yang umum adalah penyambungan tunas pucuk dan menyisipkan mata tempel (Stek). Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah onderstam/batang bawah yang dipilih dari buah jeruk dengan akar yang kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan, tahan kekeringan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda.

Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh peternak berasal dari citroen Jepang, Rough lemon, Cleopatra, Troyer citrange dan Carizzo citrange.

Penyiapan Media Tanam dan Teknik Penanaman
Tanaman jeruk yang ditanam di lahan sawah kemiringan tanah / lahan kering. Jika ditanam di daerah perbukitan perlu dibuat sengkedan / teras. Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari sisa-sisa tanaman. Jarak bervariasi untuk setiap jenis jeruk, jeruk manis untuk jarak antara lain 5 x 5 m atau 7 x 7 m. Lubang tanam hanya dibuat pada tanah yang belum diolah dan dibuat 2 minggu sebelum tanah.

Bagian tanah di tanah dipisahkan dari lapisan atas tanah (25 cm). Berasal dari lapisan atas tanah dicampur dengan 20 kg pupuk kandang. Setelah penanaman, tanah dikembalikan ke tempat asalnya. Tidur (pegunungan) berukuran 1 x 1 x 1 m hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.

Teknik penanaman jeruk dilakukan dengan menanam bibit jeruk di musim hujan atau musim kemarau jika air yang tersedia untuk menyiramnya, tetapi harus ditanam pada awal musim hujan. Sebelum penanaman, hal itu harus dilakukan :


  • Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan;
  • Pengurangan akar;
  • Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat. Kemudian bibit ditaman, siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitarnya.

Masukan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari busuk batang. Sebelum produksi tanaman dan editorial membayangi satu sama lain, tanaman dapat ditanam antara kedua kacang-kacangan / sayuran. Setelah kanopi menutupi satu sama lain, antara tanaman diganti oleh rumput / legum penutup tanah yang juga berfungsi sebagai penambah nitrogen untuk tanaman jeruk.

Halaman Selanjutnya ....
0

Kamis, 16 Februari 2017
by :

Budidaya Buah Organik

budidaya-buah-organik-aktifis-pertanian-organik
Budidaya Buah Organik

Pemberian pupuk secara kimia, penggunaan pestisida tidak dilakukan. Pemeliharaan tanaman yang dilaksanakan hanya pemberian pupuk kandang, itupun kalau kebetulan petani tersebut memelihara hewan ternak. Petani tidak memberikan masukan (input) terhadap tanamannya. Hanya pada saat penanaman awal saja petani melakukan pemupukan dengan pupuk buatan sampai tanaman mulai kelihatan tumbuh subur. Setelah itu, pemberian pupuk buatan akan dihentikan dan tanaman dibiarkan tumbuh secara alami.

Keadaan yang sama terjadi juga pada tanaman buah-buahan yang tumbuh di kebun atau hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Pada awalnya, diberi pupuk buatan sampai kelihatan tumbuh subur, setelah itu dilihat pemiliknya satu kali dalam sebulan walaupun belum tentu dilakukan secara rutin. Petani hanya melihat menjelang musim panen tiba untuk membersihkan rumput di sekitar tanaman dan kemudian akan mendirikan gubuk kecil pada saat musim berbuah tiba sebagai tempat berteduh, menunggu saat musim panen tiba. Kondisi seperti ini berjalan terus dari waktu kewaktu dan melibatkan hampir sebagian besar petani buah-buahan terutama di luar Jawa.

Sistem Penanaman
Cara budidaya (sistem penanaman) pertanian organik berbeda dibandingkan budidaya pada pertanian konvensional. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari beberapa hal seperti jenis tanaman yang diusahakan, cara penanaman, waktu tanam, bahan dan alat yang digunakan dan sebagainya. Berbagai cara atau sistem penanaman dapat dipilih untuk disesuaikan dengan kondisi lokasi setempat, antara lain:
(1) Multiple Cropping, yaitu cara membudidayakan tanaman dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama selama satu tahun dengan tujuan untuk mendapatkan hasil panenan lebih dari satu kali dan lebih dari satu jenis penanaman;
(2) Kombinasi tanaman, merupakan gabungan dua atau lebih tanaman dalam satu lahan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penanaman tanaman campuran atau kombinasi tanaman meliputi (a) umur tanaman, (b) bentuk tubuh tanaman, (c) toleransi tanaman terhadap cahaya dan naungan, (d) kebutuhan nutrisi, (e) bentuk perakaran, dan (f) companion planting, yaitu penanaman satu jenis tanaman berdampingan dengan jenis tanaman lainnya yang saling melengkapi dari segi tuntutan fisik dan kimia;
(3) Penanaman tanaman perangkap hama, dilakukan dengan penanaman jenis tanaman yang lebih disukai oleh hama ditengah-tengah atau di sekitar tanaman utama;
(4) Penanaman tanaman penolak hama, dilakukan dengan menanam jenis tanaman yang tidak disukai oleh hama di sekitar tanaman utama. Tanaman penolak hama ini akan melindungi tanaman didekatnya dengan bau-bauan yang dikeluarkan, bentuk dan warna daun/bunga yang khas yang tidak disukai hama sehingga hama akan menjauh dari tanaman utama;
(5) Menggunakan varietas yang tahan organisme pengganggu tanaman untuk mengatasi penyakit-penyakit atau hama tertentu, penggunaan varietas-varietas yang tahan terhadap serangan hama atau penyakit; dan
(6) Tanaman pemecah angin (Windbreaker), untuk mengurangi risiko rebahnya tanaman oleh angin yang kencang, selain berfungsi sebagai habitat predator untuk pakan ternak atau sebagai pestisida hayati. Tanaman-tanaman yang dapat digunakan untuk keperluan ini, antara lain turi, lamtoro, kelor, gamal dan kaliandra.

Budidaya pertanian secara organik tidak semata-mata menggantungkan segala sesuatunya pada alam, namun manusia dapat berperan secara aktif untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada secara bijaksana dan ramah lingkungan. Usaha manusia yang dapat dikategorikan sebagai pendukung budidaya pertanian secara organik, antara lain penambahan zat organik ke dalam tanah.
0

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK

budidaya-sayuran-organik--aktifis-pertanian-organik
Budidaya Sayuran Organik-Aktifis Pertanian Organik
Pertanian organik adalah teknik budidaya tanaman tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida kimia.
Untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran organik, cara penanamannya dapat memanfaatkan pupuk kandang, pupuk hijau, endapan minyak, bahan-bahan organg belum tercemar baik didalam maupun diluar lahan, dan kompos yang terdiri dari mineral yang kaya nutrisi. Hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan memenuhi nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.
Kerusakan tanah bisa dihindari melalu pemeliharaan tanah, kualitas sumber air dan lingkungan lahan pertaniah, serta perlindungan kontinuitas produksi lahan. Sedangkan hasil yang berkualitas, aman dan sehat bisa dilakukan dengan upaya pengendalian pada saat penanaman, pengendalian secara fisik, serta pengendalian secara alamiah baik pada hama maupun gulma yang merugikan.
Secara singkat, pertanian organik tidak hanya untuk mempertahankan keseimbangan kondisi alamiah lingkungan dan menghasilkan sayuran yang sehat dan aman, tapi juga untuk mempertahankan kontinuitas penggunaan lahan pertanian.

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK

(1) Persyaratan Kondisi Lahan Sayuran
Syarat utama yang diperlukan untuk membudidayakan sayuran organik adalah kondisi lingkungan seperti tanah, udara dan air yang tidak tercemar bahan kimia, kualitas tanah yang baik, serta pengairan lokal yang mencukupi.

(2) Persiapa Lahan
Lahan disiapkan dengan membuat bedeng atau green house pada kebun sayur, sedangkan penutupan dengan net/jaring bertujuan untuk menghindari air hujan dan mencegah serangan hama.

(3) Pemilihan Jenis Tanaman
Serangan hama bisa bervariasi tergantung dari jenis tanaman, maka sebaiknya dipilih sayuran dengan ketahanan serangan hama kuat seperti ketela, kangkung, daun selada atau sayuran yang mudah dibudidayakan seperti sawi putih, sawi dan baby bok choy dan lain-lain.

(4) Pengaturan Pupuk
a. Pupuk organik padat
Pupuk organis padat biasa digunakan sebagi pupk dasar sebelum penanaman. Pada sayuran berdaun, biasanay ppuk disebar pada laha kemudian tanah diratakan lalu ditanami sayuran. Pada an yang ditanam dengan metode baris, jarak harus ditentukan terlebih dahulu kemudian dilakukan penanaman. Pupuk organik pada yang digunakan pada tanaman organik sebaiknya dibuat sendiri sehingga kualitasnya bisa lebih terjamin. Jika memerlukan pupuk organik yang ada di pasaran, maka harus diperiksa terlebih dahulu kandungan yang terdapat didalamnya khusunya bahan-bahan kimia. Penggunaan pupuk organik harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang bersangkutan, jika diperlukan bisa ditambah sedikit campuran tanaman mineral unsur hara atau unsur organik yang lain dan campuran lain untuk memperbaikin unsur hara tanah.
Pembuatan pupuk organik padat sebaiknya dilakukan dalam ruangan tertutup. Campur rata semua bahan yang sudah tersedia, sesuaikan dengan kandungan air dan perbandingan CN (Carbon-Nitrogen), setelah itu ditimbun.
Dalam proses penimbunan, saat suhu mencapai 60-70 derajat celcius timbunan harus dibalik. Waktu yag diperlukan sampai pupuk matang dan penggunaan berbeda, biasanya setelah 60 hari baru bisa digunakan.

b. Pupuk organik cari
Pupuk organik cair biasanya menggunakan kedelai atau ampas kedelai. Bubuk kedelai yang sudah dihaluskan ditambah bahan yang lain seperti brambut, tetes, mikroba yang menguntungkan dan air bersih. Setelah beberapa saat akan menghasilkan pupuk organik cair (tabel 1). Pada saat digunakan, diperlukan 100 sampai 300 kali pengenceran, penggunaan bisa dengan cara disemprotkan langsung pada daun atau dialirkan secara langsung, ini hasilnya akan lebih baik.

PENGENDALIAN HAMA

Pengendalian hama pada sayuran organik bukan dengan cara membasmi sampai ke akarnya melainkan melalui pengamatan selama proses penanaman, yaitu bagaimana tanaman bisa hidup berdampingan dengan hama, tujuannya adalah keseimbangan alam.
Cara yang digunakan adalah sebagai berikut:

(1). Pengendalian pada saat penanaman
Cara ini menggunakan teknik pada saat penanaman guna mencegah serangan hama. Cara yang digunakan meliputi pengelolaan tanah, rotasi tanaman, pemilihan jenis tanaman yang tahan terhadap serangan hama dan pemilihan waktu tanam. Cara pengelolaan tanah yang uum digunakan adalah merendam dengan air atau membajak (membalik) tanah. Meredam dengan air akan mematikan telur hama, hama yang masih muda atau kepompong.
Rotasi tanaman yang seseuai dapat mengurangi bahaya serangan hama, misalnya rotasi tanaman musim hujan dan musim kemarau, rotasi tanaman antara tanaman kacang-kacangan dan tanaman lain dapat memberi hasil yang baik. Pembibitan dengan menggunakan plug terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan penanaman akan dapat memperpendek waktu pertumbuhan sayuran di lahan. Hal ini juga bisa mencegah serangan hama dan mengendalikan rumput. Cara yng sering dipakai ini adalah cara pencegahan hama yang baik.

(2). Pengendalaian secara fisik
Cara pencegahan ini menggunakan alat-alat dan cara lain untuk menghindari serangan hama. Cara yang biasa digunakan adalah pentutupan, menangkap dan mematikan, memancing dan mematikan, dll. Cara penutupan yang digunakan misalnya membuat green house untuk penanaman, pembuatan parit disekeliling green house dan direndam air atau penggunaan pembungkus pada tanaman aneka labu, dll Cara menangkap dan mematikan adalah dengan menangkap langsung, baik dengan tangan maupun dengan jaring untuk kemudian dimatikan atau dengan menyiasati kebiasaan hama tanaman dengan menggunakan kertas perekat berwarna untuk menangkap dan mematikan hama. Cara lain yang bisa digunakan adalah menggunakan lampu untuk memancing hama, atau dengan umpan makanan seperti air gula, jambu, pepaya, belimbing yang dicampur dengan sedikit obat dan diletakkan di sekitar lahan hama. Hama yang tertangkap bisa dimatikan.

(3). Pengendalian dengan obat-obatan alami
Obat-obatan alami adalah obat yang tersedia di alam atau bahan obat yang sengaja ditanam, dikelompokan atau diproses lebih lanjut menjadi bahan yang dapat mencegah hama, termasuk didalamnya berbagai maam bahan alami dan mineral seperti cairan gula asam, tembakau, arak, minyak serai, peppermint oil, minyak kamper, kertas perekat bewarna kuning bakteri Bacillus Thungringiensis, abu rumput dan kayu, arang batu dll.

PENGENDALAIAN RUMPUT

Rumput bisa menghambat pertumbuhan tanaman di lahan untuk menyebabkan tanaman tidak berproduksi secara normal. Budidaya tanaman organik tidak boleh menggunakan obat kimia untuk membasmi rumput, maka pencegahan rumput merupakan satu tantangan dalam budidaya tanaman organik. Cara-cara yang biasa dipergunakan adalah sebagai berikut:

(1). Memberantas rumput dengan mesin:
Ini adalah cara yang paling menghemat tenaga. Jika terdapat banyak rumput di lahan, maka sebelum rumput menjadi banyak dan sebelum penanaman, tanah diratakan terlebih dahulu. Setelah perataan berkali-kali rumput akan menjadi berkurang.

(2). Menutupi permukaan tanah:
Ini juga merupakan cara yang baik untuk mencegah rumput. Menutup tanah pada barisan tanaman dengan plastik berwarna perak (mulsa PHP) dapat mencegah serangga perusak tanaman. Pada musim kemarau jika suhu tinggi biasanya permukaan tanah dilapisi sisa-sisa tumbuhan seperti jerami untuk menurunkan suhu.

(3). Tumpang sari:
Diantara barisan tanman ditanami tanaman pupuk hujau yang cepet tumbuh atau tanaman merambat untuk menghambat pertumbuhan rumput.

(4). Pecabutan rumput dengan tenaga manusia:
Cara ini dilakukan untuk menunjang ketiga cara di atas guna memberantas rumput sampai ke akar-akarnya.
0

Selasa, 14 Februari 2017
by :

Yang Termasuk Holtikultura

holtikultura-aktifis-pertanian-organik
holtikultura-aktifis-pertanian-organik

Secara bahasa arti Hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa Latin hortus (tanaman kebun) dan cultura/colere (budidaya), dan juga bisa diartikan sebagai budidaya tanaman kebun. Pengertian Hortikultura ini digunakan secara lebih luas dan tidak hanya untuk budidaya perkebunan saja. Adapun istilah hortikultura ini digunakan pada jenis tanaman yang dibudidayakan. Untuk bidang kerja hortikultura ini meliputi pembenihan, pembibitan, kultur jaringan, produksi tanaman, hama dan penyakit, panen, pengemasan dan distribusi. Jadi dapat juga disimpulkan bahwa Hortikultura merupakan salah satu metode budidaya pertanian modern ( sumber : wikipedia ).

Tanaman hortikultura ini merupakan cabang dari agronomi. Namun yang membedakannya adalah bahwa holtikultura hanya memfokuskan pada budidaya tanaman seperti tanaman buah-buahan (pomologi/frutikultur), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman bunga (florikultura), tanaman obat-obatan (biofarmaka). Untuk lebih jelasnya berikut ini Jenis-Jenis Tanaman Holtikultura.

Jenis-Jenis Tanaman Hortikultura


1. Tanaman Buah ( Pomologi/frutikultur )

Jenis tanaman holtikultura yang pertama adalah tanaman buah.
Buah-buahan merupakan jenis tanaman yang dapat menghasilkan buah. Kita semua juga pasti tahu dan dapat membedakan mana tanaman buah dan mana yang bukan tanaman buah. Tanaman buah ini bisanya disebut sebagai tanaman musiman. Jadi tanaman buah akan berbuah pada saat musim buah tertentu. Ada jenis tanaman buah yang hanya berbuah satu kali daam masa tanam dan ada juga yang berbuah berkai-kali selama ditanam. Adapun salah satu jenis tanaman buah yang hanya berbuah sekali saja adalah adalah buah pisang. Sedangkan contoh tanaman buah musiman adalah buah rambutan. Jadi sudah jelas sekali bahwa tanaman buah ini termasuk dalam ketegori tanaman holitkultura.

2. Tanaman Sayur ( Olerikultura )

Jenis tanaman holtikutura selanjutnya adalah sayuran. Jenis tanaman ini dapat kitajumpai disekitar lingkungan dan pekarangan rumah. Sayuran merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan setiap saat tanpa melihat musim. Sebenarnya ada dua jenis tanaman sayur yang perlu kita pahami, yang pertama adalah tanaman sayuran tahunan atau bisa dipanen selama tanaman itu hidup, seperti petai, jengkol, melinjo, ubi atau singkong, dan lain-lain. Yang kedua adalah tanaman sayuran musiman, tanaman sayur jenis ini meliputi kangkung, bayam, wortel, kacang panjang, dan lain-lain.

3. Tanaman Bunga (florikultura)

Jenis tanaman bunga adalah tanaman yang biasa digunakan sebagai tanaman hias. Tanaman hias ini juga bermacam-macam jenisnya, ada yang ditaman dalam pot dan ada juga yang ditanam dengan cara mananam langsung ditaman. Contoh tanaman bunga atau tanaman hias ini adalah mawar, melati, anggrek, kenanga, kamboja, dan lain-lain. Tanaman bunga ini termasuk dalam jenis tanaman holtikultura yang berfungsi sebagai penambah nilai estetika dalam suatu taman atau ruangan.

4. Tanaman Obat ( Biofarmaka )

Jenis tanaman holtikutura yang terakhir adalah tanaman obat ( biofarmaka ) atau bisa juga disebut sebagai tanaman rempah. Tanaman obat ini sangat banyak manfaatnya dan sudah lama digunakan oleh masyarakat sebagai bahan pembuat obat-obatan dan bisa juga digunakan sebagai bahan tambahan pada bumbu masakan. Contoh tanaman ini adalah jahe, lengkuas, temulawak, kayu manis, serai, brotowali, dan lain-lain.

Itulah sedikit informasi tentang Pengertian Tanaman Hortikultura dan Jenis-Jenis Tanaman Hortikultura. Mudah-mudahan informasi ini dapat menambah wawasan anda semua.
0

Gerakan Pertanian Organik

Mengembalikan Kejayaan Bumi Nusantara

Gerakan Pertanian Organik dimaksudkan untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia dengan menggantikan pupuk yang berbasis organik sehingga diharapkan mampu mengembalikan kesuburan tanah pertiwi
Copyright ®️ 2020 | APO All Right Reserved